Refleksi Pilkada Jawa Timur

Baru beberapa hari yang lalu masyarakat Jawa Timur Melaksanakan pesta demokrasi daerah. Yup, apalagi kalau bukan pemilihan Gubernur tepat pada tanggal 23 Juli 2008, kalau di tempat saya mulai jam 8 sampai jam 1 siang (kayanya sama di semua tempat ya he50x…). Hitung-hitung ini adalah pemilihan gubernur pertama saya lho. Hebat bukan he50…

Sekedar informasi saja, ada 5 pasangan calon gubernur yang mencalonkan diri, yaitu:

1. Ka-ji (Khofifah Indar Parawangsa dan Mujiono) dengan backup dari PKNU dan Patriot (PP)
2. SR (Sutjipto dan Ridwan Hasyim) dengan backup dari PDIP dan Golkar
3. Salam (Sunaryo dan Ali Machsan Moesa) dengan back up Golkar dan NU
4. Achsan (Achmady dan Suhartono) dengan back up PKB Gusdur
5. Karsa (Soekrwo dan Saefulah Yusuf) dengan backup demokrat, PAN dan PKS

Tapi ada yang beda lho dari pemilihan umum daerah ini. Belajar dari pengalaman ‘nyoblos’ presiden dulu dan pengamatan seumur hidup kalau ada ‘coblosan’, suasana pemilihan ini terkesan sepi. Sepi dari peminat, sepi dari ramenya pembicaraan calon, bahkan bisa dibilang sepi dari pencoblos (pengamatan pribadi).
Saya jadi sempat bertanya-tanya, apa ada yang salah ya? Dan ternyata saya mendapatkan jawaban dari berita keesokan harinya bahwa jumlah golongan putih alias golput adalah sebesar 39,2%. Wah tentu saya pikir ini baru pertama kali ya. Hal ini tentu saja mengharuskan para calon untuk melakukan pemilihan putaran kedua yang dilakukan 3 bulan lagi. Hal ini dikarenakan masing-masing calon tidak ada yang memiliki suara lebih dari 30% sesuai aturan Undang-undang no 12 tahun 2008 Perubahan atas UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.

Sebenarnya tak usah jauh-jauh, banyak orang-orang terdekat yang lebih memilih untuk golput dengan berbagai alasan tentunya. Tapi yang paling banyak tersuarakan adalah alasan ‘milih gak milih tetep ae beras larang’.

Dan apakah ini berarti tercerminkannya ketidak percayaan masyarakat akan para calon yang mencalonkan diri atau bahkan kekecewaan terhadap pemimpin terdahulu, yang jelas apakah hal ini harus dibiarkan? Jelas tidak karena hal ini lebih penting daripada siapa yang akan memilih Jawa Timur 5 tahun kedepan. Karena hal ini menyangkut kepercayaan atas amanah yang diemban pemimpin rakyat. Dan ini berarti ada yang salah dengan kondisi masyarakat kita (masyarakat dalam hal ini adalah keseluruhan WNI tanpa terkecuali, red).

Jika kita berbicara mengenai perubahan maka perubahan hanya bisa dilakukan jika kita mau benar-benar berubah, Alloh SWT tidak akan merubah keadaan kita jika kita bahkan tidak mau berusaha. dan ini mengharuskan kita memikirkan lagi kata-kata ‘kembali ke diri kita masing-masing’, karena kalimat tersebut bukanlah kalimat klise yang bersifat pelarian diri. Tapi lebih dalam lagi adalah nilai Introspeksi yang terkandung.

Dengan Introspeksi, kita bisa mengurangi kelemahan, memperkuat kelebihan, mencari peluang dan kita siap menghadapi ancaman bagi diri kita. Sehingga kita tidak akan menyalahkan orang lain atas keadaan diri kita sendiri. Ada pepatah yang bilang ‘Seorang pemenang adalah orang yang mengetahui dengan baik kelemahannya, sementara pecundang sibuk menyalahkan orang lain’.

Kembali pada golput, maka yang harus dilihat kembali adalah diri kita sendiri. Tanyakan lagi pada hati nurani, apa yang akan kita perbuat untuk negeri ini, apa yang akan kita perbuat di dunia ini, apa yang akan kita lakukan hingga hidup ini berarti, dan berguna bagi diri sendiri dan orang lain. Tanyakan lagi, apa yang akan kita rubah jika kita tidak bertindak.

Jadi mari berubah, mari bertindak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s