Ketahanan Energi

Energi akhir-akhir ini kembali mencuat sebagai topik utama di negeri ini. Mulai dari konservasi energi, harga minyak dunia yang melonjak tinggi, kekurangan pasokan listrik sehingga perlu adanya pemadaman bergiliran, harga BBM yang juga akan dinaikkan pemerintah awal Juni ini, energi alternatif dan lain-lain selalu jadi perbincangan yang layak diperdebatkan sepertinya.

Jika orang mulai berbicara tentang harga BBM yang akan naik dan menolak untuk kenaikkannya, maka sebenarnya kita sudah berbicara tentang ketahanan energy. Sama dengan halnya ketahanan pangan, ketahanan energy juga membahas bagaimana tingkat rumah tangga mampu mengakses dan mampu membeli energi dengan harga yang murah. Sama seperti listrik yang selama ini bisa dikatakan mudah diakses oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Padahal bisa dibilang penghasil energy listrik di negara kita juga berasal dari energy fosil.

Apakah masyarakat kita sudah bisa mengakses energy dengan mudah? Apakah masyarakat kita sudah mampu membeli energy dengan murah dan tidak melebihi pendapatan mereka? Jika jawabannya adalah belum dan belum maka bisa dikatakan mereka rawan energy, dengan kriteria tertentu seperti seberapa mudah akses energi bagi masyarakat dan seberapa besar pangsa pengeluaran mereka untuk energy.

Disini saya tidak akan membahas tentang parameter rawan atau tidaknya masyarakat terhadap energy karena hal tersebut butuh penelitian lebih lanjut. Tapi lebih kearah kepedulian kita terhadap energy. Seberapa besar kita peduli akan energy, seberapa besar kepedulian kita terhadap konservasi energy adalah hal yang sebenarnya kita lakukan mengingat kondisi bangsa yang belum dikatakan mandiri energy.

Hal yang harus dilakukan pertama kali adalah dari diri kita sendiri. Bagaimana pola penggunaan energy kita, apakah kita sudah menggunakan asas efektif dan efisien dalam penggunaannya? Yup, paling tidak kita bisa menghemat penggunaan energy bagi diri kita sendiri. Dengan begitu, kemungkinan besar orang lain bisa mengakses energy dengan lebih mudah juga semakin besar bukan?

Dengan menghemat konsumsi energy, maka jumlah uang yang kita keluarkan untuk energy akan lebih sedikit dan konsumsi energy kita juga semakin sedikit. Jika semua penduduk Indonesia melakukan hal yang sama maka kemungkinan cadangan energy akan lebih banyak dan tidak terjadi kekurangan seperti sekarang ini.

Ketika harga BBM akan dinaikkan, orang malah berbondong-bondong memborong tau bahkan menimbun BBM, bukannya malah mengurangi konsumsinya. Hal itu yang makan meningkatkan kemampuan mengakses energy orang lain menadi berkurang.

Mulailah dari sekarang kita hidup dalam kondisi yang prihatin, hidup sesuai dengan peribahasa ‘tidak lebih besar pasak daripada tiang’. Sesuaikan pembelian energi dengan kebutuhan. Menggunakan listrik seperlunya. Bepergian seperlunya.

Berhemat bisa kita mulai dari diri kita sendiri.

Maka, ayo kita berhemat energi.

Hemat energi, hemat biaya.

One thought on “Ketahanan Energi

  1. Artikel di blog ini sangat bagus dan berguna bagi para pembaca. Agar lebih populer, Anda bisa mempromosikan artikel Anda di infoGue.com yang akan berguna bagi semua pembaca di seluruh Indonesia. Telah tersediaa plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!

    http://energi.infogue.com/ketahanan_energi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s