Waktu

Aku berdiri dengan darah mengalir dari perutku dan kau hanya diam mempersalahkan aku yang tak sengaja menyenggolmu dengan sikutku.

Aku berdiri tak lagi mampu dan diammu bagaikan sembilu meraba sayang luka mengangaku.

Sesepi sepinya angin di pucuk pohon pinus itu, tak kan mampu goyahkan helaan nafas wanitaku yang lelah karena cintai aku.

Jam berdentang seolah pagi adalah hari ini

Anjing menggonggong seolah hantu adalah debu

Aku berjalan disisir pantai memikirkanmu dan yang datang hanya lembutnya belaian ombak di kakiku yang telanjang

Aku sendiri namun kau tak turut disisiku

Aku meraba dan kau tertawa

Aku mengerti dan kau hanya mati

Aku memahami dan kau hanya sepi

Aku membenci dan kali ini kau benar benar mati

Waktu lah yang paling mengerti duka citaku yang kutimbuni dengan pasir bahaya

Waktulah yang memapahku ketika nafas bukan lagi aku

Waktulah yang membimbingku dan membisikkan kata kata, sayang waktumu masih panjang

Waktulah yang menuntunku meenemukan Kedewasaanku yang sempat minggat entah kemana

Waktulah yang mengorbankan dirinya untuk menungguku di bibir jurang hanya untuk merenung, merintih sedih meratapi aku yang hampir hancur

Waktulah yang mengingatkanku akan keindahan dan keagunganNya

Waktulah yang membimbingku

Waktulah

Waktu adalah waktu

Waktu yang paling mengerti dibanding aku sendiri

Tanpa kehadiranmu pun aku sudah hancur

Kamis, 31 Agustus 2006

Kalipuro, Banyuwangi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s