Saatku jatuh cinta

Jika memang sesat itu nikmat sobat….kau adalah temanku

mari bersulang dengan nafsu dan biarkan akal jadi babu

Jika sendiri itu hati, maka mandiri bukan tentang rasa, tapi sepi…

Jika cinta itu harga mati, lebih baik aku jadi pohon jati, lurus tegak memandang dengan keji…

Karena aku adalah Ironi…

Sementara pinusku mulai bergoyang diterpa angin di sudut jendela hatiku yang memudar

pasir berbisik seolah dia tahu apa yang diinjak raga

seolah dia tahu apa yang paling dingin selain mimpi

melewati dinginnya mimpi

ironi mati sekali lagi

lalu bangkit karena burung api takkan bisa pudar karena agni

ironi bukan besi

ironi bukan barang mati

bersandar di pucuk gendang hati

bukan tentang rasa namun sepi

berdiri dan berjalan melalui alur pantai

kutahu aku bukan aku

sekali lagi kita bicara bukan kata

karena rinduku dua cara

satu untuknya

satu untuknya

rinduku dua cara

hati terbelah lima

pinusku bergoyang sekali lagi memandang keji pada jati yang kali ini tak sudi menghampiri

pinusku mewangi

ironi mati sekali lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s