kepada cemara, pinus, bergoni serta ironi yang selalu ingin mati.

tekak yang selalu ada di leher makin menetak

kelak jika memang kakak

maka adik takkan bilang tak

juga berbilang tidak

untuk cemara yang makin hari makin kukuh dan takkan rusuh

ketegaranmu menerima tiupan angin makin mantapkan akar pengetahuanmu dalam tanah kemerdekaan yang jauh dari pikirmu sekarang

kepada cemara yang baik hati

semoga tidurmu nyenyak hari ini

semoga makanmu enak kali ini

kuharap keperkasaanmu bukan cuma dalam mimpi perawan berbusana hawa

selamat pagi pinus yang makin dewasa dari hari ke hari

ketegaranmu akan pembuktian diri makin bijaksanakan hatimu yang tak tahu pasti

keinginanmu tuk sebarkan jarum-jarum dedauanan mungkin tak terwakili

pinus bukan cemara bukan bergoni dan jelas bukan ironi

penahbisanmu sebagai penguasa bukan berarti kaulah segalanya

pribadimu yang teduh terkadang menyakitkan bagi ironi yang tak mau tundukkan hati

selamat pagi pinus yang tak mau memohon dan dan meratap

keanggunan dan kesedihanmu ternyata hanya berlaku bagi jiwa-jiwamu yang gugur tak terjangkau

semoga jiwamu penuh dan mampu tidak mengeluh

walau ironi siap untuk menangguh

hai hai bergoni ria berjaya

kapan kita bersua dalam kebersamaan di atas meja kesuka riaan lagi?

kapan kita sesap anggur dan madu dari cawan kenikmatan lagi?

kapan kita membiarkan jiwa-jiwa muda penuh petualangan membebaskan pikiran tua penuh kegusaran akan kerusakan mayapada

hai hai bergoni mudaku

ketidakpedulianmu akan ketidak berdayaan manusia

buatku lupa akan beban yang mendera

terima kasih bergoniku yang tetap tak mau tahu

semoga dibuka hatimu

duhai ironiku kenapa bermuram durja

cobalah melihat segala sesuatu apa adanya

kenapa?

harus melihat dibaliknya?

tapi melihat apa adanya akan lebih mudah

karena begitulah kodrat, ironiku tersayang

cobalah renggangkan sayapmu

walau patah

obati dengan cinta bidadarimu yang kau tunggu selama 5 purnama terlewati

kenapa?

kau ingin lupakan bidadarimu?

kenapa?

kau hanya inginkan hatinya jika kau sudah melepuh?

mencintai pinus?

bukan cinta seperti itu?

apa maksudmu ironiku, sungguh kau bingungkanku!

Not so long ago that i’m nothin’

But i wanna be something

Dymas

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s