Elegi Pagi

Dan aku merenda sutra hitam dengan keangkuhan serta kebiadaban

Kubiarkan meleleh bagaikan madu dan keindahan yang tak selamanya ada

Meninggalkan bias merah dan biru serta ungu dihatimu

Menorehkan arti kata baru di sanubarimu

Sendu…

Sementara pelangi menggariskan warna warni duniawi ke hati sang dewi

Menahbiskan keelokan di tempatnya yang tinggi

Mengalungkan rangkaian mawar melati di dadanya dewi

Berucap manis, “dan demi segala bentuk murni dan wangi, cintailah hari ini bukan esok pagi”

Dan cemara menggugurkan daunnya untuk bersenandung bahagia, ”jika hanya hari ini, bagaimana dengan kemarin hari?”

Dn sang dewi tersedu bukan kepalang, “tiada yang mampu merenda senyum sehalus budi pekertimu, tapi aku bahkan tak mampu menatap matamu; cinta…”

Benarkah itu cinta?

Ataukah hanya semburat jingga kuning kelabu yang bercampurkan dengan helaian angin dibawah kakinya yang penuh debu?

Atau hanya khayalnya terlalu melambung untuk bahkan tak bisa mungkin kembali?

Dan pepohonan hanya bersiul rendah dan burung menyanyikan ode tentang kesendirian…

Bendo, 07 Februari 2008

04:54 WIB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s