Anak-anak surga, dan bersyukur?

“Zahra menangis dan merasa amat kesal saat sepatunya hilang oleh kakaknya, Ali. Di sisi lain, Ali pun khawatir jika kasus hilangnya sepatu itu akan diketahui oleh sang Ayah.

Mau tak mau, demimenutupinya, mereka mesti bergantian memakai sepatu Ali untuk pergi bersekolah. Zahra yang masuk lebih pagi akhirnya harus berlari sepulang sekolah untuk menyerahkan sepatu yang ia kenakan kepada Ali.

Kejadian demi kejadian pun berlangsung, Ali beberapa kali harus berbohong pada gurunya ketika ia terlambat. Bahkan pernah sekali waktu, ia harus dihukum karena tidak memakai kaus kaki akibat sepatunya basah setelah Zahra tak sengaja menjatuhkannya ke selokan. Sementara, sang adik selalu merengek pada Ali untuk segera mengganti sepatunya yang hilang.

Kegalauan Ali akhirnya terjawab. Suatu hari, ia melihat pengumuman di sekolah mengenai lomba lari marathon. Untuk juara kedua, hadiahnya adalah sepatu baru. Melihat kesempatan ini, Ali menemukan cara untuk mengganti sepatu adiknya.

Tak ada yang unik dan lucu dari lomba lari marathon ini. Semua berjalan normal, misalnya di pertengahan jalan beberapa anak ada yang menyerah atau tertinggal. Keunikan hanya terjadi pada Ali. Ia, yang mengincar juara kedua, selalu berusaha agar menempati posisi kedua bagaimanapun caranya. Namun sayangnya, di beberapa meter menjelang garis finish –karena tak ingin tertinggal— ia memacu larinya lebih cepat. Ia pun lupa kalau ia harus tetap berada di posisi kedua. Akhirnya, kenyataan yang paling pahit harus terjadi, Ali menjadi juara pertama.

Kemenangan ini tak membuat Ali senang –padahal hadiah pertama adalah sepeda. Malah, ia sedih karena harus kehilangan sepatu untuk adiknya. Melihat kegigihan kakaknya untuk mengembalikan sepatunya, Zahra akhirnya tidak tega. Alih-alih marah, ia justru membantu mengobati luka di kaki kakaknya hasil kerja keras untuk berlari menjadi pemenang.

Di akhir cerita, sang Ayah tampaknya tahu nasib hilangnya sepatu Zahra dan rusaknya sepatu Ali untuk berlari. Tanpa sepengetahuan kedua anaknya, sang Ayah mempunyai kejutan sepatu baru buat Ali dan Zahra yang ia beli di pasar.”

Diatas adalah review sebuah film dari Iran yang berjudul “Children of Heaven”. Sebenarnya sudah dua-tiga kali ini saya nonton film itu. Kesemuanya nonton di salah satu televisi swasta. Tapi tetap film tu bisa bikin “trenyuh”, miris dan tersenyum serta berucap syukur Alhamdulillahi robbil alamin. Karena film itu menurut saya mengajak kita supaya bisa bersyukur atas apa yang kita punyai. Belajar saling menghargai, menyayangi, peduli dengan orang-orang terdekat, dan semuanya dikarenakan Alloh SWT.

Bersyukur tak harus ketika mulai mendapatkan rizki yang berlimpah dari Alloh SWT, tapi bisa dimulai dengan hal yang paling kecil. Coba deh, bangun tidur kita sehabis Subuh, kita introspeksi, dari ujung rambut sampai ujung kaki, mana sih yang bukan nikmat Alloh? Dari 24 jam sehari, 7 hari seminggu 4 minggu sebulan, mana yang bukan nikmat Alloh SWT? Alloh SWT pun berfirman dalam QS. Ibrahim:7:

Dan ingatlah ketika Rabb kalian memaklumkan: Jika kalian bersyukur niscaya Kami akan menambah (nikmat Kami) dan jika kalian mengkufurinya sungguh azab-Ku sangat pedih

Jadi bersyukur atas sekecil apapun nikmat yang telah diberikan Alloh SWT akan membuat hati jadi lebih ridho dan insyaalloh akan ditambah oleh Alloh SWT.

Btw, anyway dan jujur, dari semua film asing yang masuk ke Indonesia, menurut saya film ini lebih bagus dari yang manapun, Insyaalloh.

So buat yang belum nonton, ada kiranya bagus bila mulai nyari-nyari di rental-rental. Atau mau nunggu ditayangin lagi di salah satu televisi swasta?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s