Aku masih tetap Hitam.

Aku ingin jika memang waktuku amat sangat sempit tak ada lagi, kumau luangkan waktuku yang amat sangat sempit demi menyempilkan dirimu dalam relung pikirku yang sedang sakit.

Menatapmu yang sedang sendiri dan penuh dengan kesenduan mengakibatkan hatiku yang sedang bahagia dan penuh dengan kenangan memudar seolah tiada yang bisa menyatukan kolase-kolase tersebut jadi satu lagi.

Teman, keberadaanmu yang sendu, mengingatkanku pada sebatang pohon oak yang tak mau mati meski hujan berbatu mengguyur kota hitam penuh manusia bodoh tak mau tahu tentang keadaanmu.

Pinus, meski seorang ironi hendak pergi kali ini, ingatlah bahwa kehitamannya tetap meninggalkan goresan akan kehadiran anak manusia penuh rindu akan keberadaan temannya yang sendu.

Cinta, terkadang meski luka bukan tentang amu dan dia, aku pun sakit jika kau memanggil namanya, seolah tanpa kau tahu, aku bukan pengaggum auramu.

Cinta, jika terkadang aku acuh, aku tetap memandangmu sebagai payungku akan angin nafsu yang terus menderu ke seluruh aku.

“Segala yang indah dan patut dikenang rasa ini…”

Semua sekarang tinggal kenangan dan hanya memori tersia, kan kubiarkan kehitamanku ditertawakan seakan lucu oleh mereka. Kubiarkan mereka kasihan akan kehitamanku yang bukan tentang fisik namun hanya dibilik.

Sayang, aku masih tetap yang dulu… Hitam dan tetap tak mau tahu, meski rasa itu tetap tertuju.

Sayang, semoga sayp berendamu tak luruh terkena hembusan angin nafsuku.

Cintaku, terlarang atau bahkan terhina, kau tetap kan kumiliki.

Who really knows me except me.

Kali ini aku bener-bener ga tahu lagi apa yang ada dipikiranku.

Ada rasa rindu, cemburu, cinta, sayang, benci, iri, sedih…. dan kebanyakan adalah hal-hal yang membuatku benar-benar ingin mengucilkan diri lagi.

Haruskah jika memang hal itu yang benar-benar kuinginkan aku bisa lebih baik dari sekarang, jika kulihat dia begitu bahagia dengan keadaanya yang sekarang bisa lebih bebas tanpa ada beban.

Sementara keinginanku untuk bisa ada disisinya, menjadi teman, kawan dan lawan belum juga kesampaian karena dia begitu jauh dan mandiri untuk diikat dengan kata ‘pertemanan’.

Sementara yang kuanggap teman walau aku merasa bukan tak begitu mengerti dengan apa yang kupikir dan kuangankan.

Memang tiada seorang yang benar-benar mngerti dirimu jika bukan engkau sendiri.

Jangan pernah menggantungkan diri pada orang yang namanya teman…. Kata-kata yang mungkin bisa jadi pedoman…

Hhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh….

Sometimes people can surprise you…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s