RSS

Puisi-puisi Soe Hok Gie

26 Feb

MANDALAWANGI PANGRANGO

Sendja ini, ketika matahari turun kedalam djurang2mu

Aku datang kembali

Kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu.

Walaupun setiap orang berbitjara tentang manfaat dan guna

Aku bitjara padamu tentang tjinta dan keindahan

Dan aku terima kau dalam keberadaanmu

Seperti kau terima daku.

Aku tjinta padamu, Pangrango jang dingin dan sepi

Sungaimu adalah njanjian keabadian tentang tiada

Hutanmu adalah misteri segala

Tjintamu dan tjintaku adalah kebisuan semesta.

Malam itu ketika dingin dan kebisuan menjelimuti Mandalawangi

Kau datang kembali

Dan bitjara padaku tentang kehampaan semua.

Hidup adalah soal keberanian, menghadapi jang tanda tanja

Tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar

Terimalah dan hadapilah.”

Dan antara ransel2 kosong dan api unggun jang membara

Aku terima itu semua

Melampaui batas2 hutanmu, melampaui batas2 djurangmu.

Aku tjinta padamu Pangrango

Karena aku tjinta pada keberanian hidup

Djakarta, 19-7-1966

Soe Hok Gie

Sebuah Tanya

Akhirnya semua akan tiba pada pada suatu hari yang biasa

pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui.

Apakah kau masih berbicara selembut dahulu

memintaku minum susu dan tidur yang lelap?

sambil membenarkan letak leher kemejaku.

(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, kenbah Mandalawangi.

kau dan aku tegak berdiri melihat hutan-hutan yang menjadi suram

meresapi belaian angin yang menjadi dingin)

Apakah kau masih membelaiku selembut dahulu

ketika kudekap kau dekaplah lebih mesra,

lebih dekat.

(lampu-lampu berkedipan di Jakarta yang sepi

kota kita berdua, yang tau dan terlena dalam mimpinya

kau dan aku berbicara tanpa kata, tanpa suara

ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)

apakah kau masih akan berkata

kudengar derap jantungmu

kita begitu berbeda dalam semua

kecuali dalam cinta

(haripun menjadi malam kulihat semuanya menjadi muram

wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara

dalam bahasa yang tidak kita mengerti

seperti kabut pagi itu)

manisku, aku akan jalan terus membawa kenangan-kenangan

dan harapan-harapan bersama hidup yang begitu biru.

Selasa, 1 April 1969

Soe Hok Gie

Pesan

Hari ini aku lihat kembali

Wajah-wajah halus yang keras

Yang berbicara tentang kemerdekaaan

Dan demokrasi

Dan bercita-cita

Menggulingkan tiran

Aku mengenali mereka

yang tanpa tentara

mau berperang melawan diktator

dan yang tanpa uang

mau memberantas korupsi

Kawan-kawan

Kuberikan padamu cintaku

Dan maukah kau berjabat tangan

Selalu dalam hidup ini?

Sinar Harapan 18 Agustus 1973

Soe Hok Gie

Pada orang yang menghabiskan waktunya ke Mekkah

Pada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza

Tapi aku ingin habiskan waktuku disisimu sayangku

Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu

Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandalawangi

Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danau

Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biavra

Tapi aku ingin mati disisimu sayangku

Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya, tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu

Mari sini sayangku

Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku

Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung

Kita tak pernah menanamkan apa-apa

Kita takkkan pernah kehilangan apa-apa

Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan

Yang kedua dilahirkan tetapi mati muda

Dan yang tersial adalah bermur tua

Berbahagialah mereka yang mati muda

Makhluk kecil kembalilah dari tiada ke tiada

Berbahagialah dalam ketiadaanmu

Soe Hok Gie

About these ads
 
22 Comments

Posted by on February 26, 2009 in Kata Saya

 

Tags: , ,

22 responses to “Puisi-puisi Soe Hok Gie

  1. Zul Halizar Muhammad

    January 18, 2010 at 4:15 pm

    Aku iri padamu..
    Seandainya di otak ini mampu mengeluarkan kata-kata dahsyat seperti mu.

     
    • Dymas Purwa

      January 18, 2010 at 7:16 pm

      aku juga iri ma Gie, dia begitu ointar mengolah kata,
      sama,
      tapi jangan iri ma aku bang hahaha

       
  2. tensai

    November 10, 2010 at 7:48 pm

    saya iri juga dgn gie,,,

    dia begitu kritisnya dgn pemerintah,,

    tapi bgaimana dgn gnerasi2nya sekarng??

    apakah mereka juga skritis Gie??

    apakah mereka juga suka bertanya-tanya akan ketidakbenaran yg ada d sekitar mereka??

    sungguh sayang sekali,,,
    tidak ada sosok sepertimu Gie…

     
  3. fajar

    November 20, 2010 at 5:25 pm

    puisi alalah kebenaran..kata-kata jujur yang harus di ucapkan…begitu juga dengan gie

     
  4. muhamad

    December 2, 2010 at 10:06 pm

    gie,,engkau memang sosok yang taakan terlupakan di kehidupan DI PECINTA ALAM,,,
    kami segenap pecinta alam ,,takkan lupa dngan sosok seorang SOE HOK GIE

     
  5. wahono

    December 10, 2010 at 11:20 pm

    aku masih bertanya…
    gie….. apakah dengan atau tanpa sentuhan wanita….
    kau bisa menjalani malam dan hari dengan damai

     
    • septina tobing

      July 19, 2011 at 7:10 pm

      hanya gie yang tahu

       
  6. nuno

    December 14, 2010 at 4:42 am

    senja tiba…
    tunggulah saat fajar kembali menguak gelap…
    memecah sunyi…
    dan membelah dingin yang pekat…
    ada setangkup haru dan rindu yang enggan layu…
    gie… kau dimana…???

     
  7. Talitha

    February 16, 2011 at 5:00 pm

    Gie,
    Hidup dlm alam pikiran dan renunganx yg tanpa batas.
    Tak perlu bnyk bicara, tp pemikiranx mampu menembus ruang berpikir khalayak.
    Dengan atau tanpa eksistensi x sbg aktivis mahasiswa, dia tetaplah ‘si Tajam Pena’.
    Gie, kami aktivis mahasiswa rindu tokoh sepertimu,

     
  8. danurfan

    April 25, 2011 at 6:36 pm

    gie, setiap mapala akan selalu merindukan orang orang yang peduli terhadap negara dan alam sperti mu. lestari.

     
  9. FHUYU MEKONGGA

    April 30, 2011 at 2:01 pm

    Aq ingin seperti dirimu……yg jauh dari masalah….dan abadi dipuncak2 tertinggi

     
  10. DaniMar

    June 3, 2011 at 3:33 pm

    Thanks,yang udah publish
    Gie itu salah satu inspirator!

     
  11. yaxzein01

    June 24, 2011 at 10:49 pm

    Komet..

     
  12. Marquirette

    July 5, 2011 at 10:44 pm

    Aku jatuh cinta pada pribadimu, pada untaian kata yang jujur pada setiap tulisanmu, tanpa interfensi, tanpa interupsi…
    Aku jatuh cinta pada kebebasan yang juga kau damba, kebebasan yang mampu memberadakanmu pada menara langit, dan pada saat bersamaan melandaikanmu pada bibir pantai…

     
  13. Dzimar Badranaya

    July 23, 2011 at 11:29 am

    munkin bila sosok soe hidup di zaman sekarang mungkin dia akan mengkritik habis-habisan dengan kinerja SBY……………..

     
    • Rini Elrealvira

      September 11, 2011 at 1:17 am

      kinerja SBY sudah banyak yg mengkritik, walaupun tanpa Gie.
      zaman Gie hidup, kebebasan bersuara dikekang, demokrasi mati, hingga Gie sampai mati berteriak akan kebebasan.
      tapi zaman kini, kebebasan suara malah kebablasan. siapapun bebas mengkritik, tanpa masuk penjara. situs jejaring sosialpun jadi ajang gratis caci maki.
      jadi jgn samakan zaman Gie, dng zaman kini.
      yg patut dijadikan pertanyaan, “akankah Gie menjadi seperti mereka yg kebablasan itu,
      atau ia tetap memiliki idealisme dng segala norma & etika yg ia miliki,
      seandainya ia hidup saat ini ???
      dan jawabnya terkubur bersama dingin beku nya Semeru…

       
  14. jupry

    September 1, 2011 at 10:51 am

    apkah masih ada teriakn elang-elang muda yang keras,paruh yang kuat dan cakar yang siap mengcengkram di dalam hutan-hutan metropolitan
    terbersik dalam kata “mungkin elang sekarang telah menjadi ayam potong yang menunggu untuk di potong dan di hidangkan di meja-meja meja penguasa yang tak lagi punya malu”

    walaupun elang sekarang tak sekuat seperti dulu “gie”
    tapi jadilah ayam jantan yang tak pernah takut sebelum bertempur…..

    dan jangan biarkan kami mati seperti monyet di atas ranjang “gie”

     
  15. onchy furqon

    February 4, 2012 at 11:43 am

    raga bisa hilang dan busuk seperti pohon yang akan lapuk dan” jabuk”
    cita-cita adalah sebuah harapan ,yang terjadi atau pun hanya mimpi yg menghiasi kehidupan ini..
    tapi semangat yang pantang menyerah adalah sebuah inspirasi bagi setiap manusia

    masih adakah harimau gunung di esok hariii……
    yang dapat menggigit dan mencakar dgn rahang dan kuku nya..
    apakah harimau akan diam dan takut untuk mengaung… seprti dulu…
    apakah akan tersisih dan mati ….. menjadi…. bangkai…

    harimau gunung ku, perjuangan mu akan menjadi inspirasi bagi ku…
    auman mu akan selalu terdengar …. sampai akhir … dunia ini…
    tidur lah dengan tenang harimau ku ……

    auman yg akan di dengar oleh rezim-rezim negri ini
    auman yg akan terdengar di telinga-telinga penguasa-penguasa negri ini
    gie kau adalah harimau gunung yg mengaum tanpa kenal lelah..
    akan kah ada harimau-harimau yg mengaum seperti dulu … tanpa adanya interfensi …
    apakah harimau akan menjadi kucing yg hanya mengeong dan tidur di sofa yg empuk……..

     
  16. Rizky

    February 9, 2012 at 8:11 pm

    Seperti Gie yang selalu berpikir bebas dalam setiap tindakanya
    kita pun harus belajar agar tidak berpikir sempit dalam sebuah keadaan dan semoga impian yang ditulis oleh Gie dapat bermamfaat bagi para anak muda

     
  17. harvey

    August 8, 2012 at 12:03 pm

    Soe Hok Gie.. bagiku dia yang terbaik,, bhkan menurutku, lebih baik dari chairil anwar.

     
  18. A6

    January 18, 2013 at 4:27 am

    Sungguh negara kita membutuhkan orang2 saat ini………

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: