RSS

Rindu

Katakanlah aku rindu, mampukah itu menundukkanmu?

Katakanlah aku mau, berpalingkah kamu?

Katakanlah rindu adalah peluru yang menghunjam jantungku, bidikanmu membuatku mati kaku.

Ketika rindu merubahku sendu, adakah peluk dan ciummu?

Ketika rindu menjadi embun di helai dedaunan perdu, akankah pagiku berisi kopi dan senyummu?

Apabila rindu itu peluru, dan apalah senandung bidadari di kepalaku?

Apabila rindu itu kamu, maukah aku mengaku?

(Twitter, 06 Maret 2013)

 
2 Comments

Posted by on March 6, 2013 in Dari Saya

 

Candi Jawi

Image

Dibangun sekitar abad 13, Candi Jawi bukanlah merupakan tempat pemujaan atau tempat peribadatan. Candi ini merupakan tempat penyimpanan abu dari raja terakhir SingosariKertanegara. Sebagian dari abu tersebut juga disimpan pada Candi Singosari. Kedua candi ini ada hubungannya dengan Candi Jago yang merupakan tempat beribadat Kertanegara.

Mengapa Kertanegara membangun candi di sini. Padahal, letaknya jauh dari pusat kerajaan? Bisa jadi karena di kawasan ini pengikut agama Siwa-Buddha sangat kuat. Rakyat di daerah itu sangat setia. Sekalipun Kertanegara dikenal sebagai raja yang masyhur, ia juga memiliki banyak musuh di dalam negeri. Kidung Panji Wijayakrama, misalnya, menyebutkan terjadinya pemberontakan Kelana Bayangkara. Negarakertagama mencatat adanya pemberontakan Cayaraja.

Mungkin saja, kawasan Candi Jawi dijadikan basis pendukung Kertanegara. Terbukti, saat Dyah Wijaya, menantu Kertanegara, melarikan diri setelah Kertanegera dikudeta raja bawahannya, Jayakatwang dari Gelang-gelang (daerah Kediri), sempat bersembunyi di daerah ini, sebelum akhirnya mengungsi ke Madura.

Bentuk candi berkaki Siwa, berpundak Buddha. Bentuknya tinggi ramping seperti Candi Prambanan di Jawa Tengah, dengan ukuran luas 14,24 x 9,55 meter dan tinggi 24,50 meter. Pintunya menghadap ke timur. Posisi pintu ini oleh sebagian ahli dipakai alasan untuk mempertegas bahwa candi ini bukan tempat pemujaan atau pradaksina.

Biasanya, candi untuk peribadatan menghadap ke arah gunung, tempat bersemayam kepada Dewa. Candi Jawi justru membelakangi Gunung Penanggungan. Sementara ahli lain menganggap sebagai candi pemujaan. Posisi pintu yang tidak menghadap ke gunung karena pengaruh dari Buddha.

Keunikan Candi Jawi adalah adanya relief di dinding. Sayangnya, relief ini belum bisa dibaca. Bisa jadi karena pahatannya yang terlalu tipis, atau karena kurangnya informasi pendukung, seperti dari prasasti atau naskah. Negarakertagama yang secara jelas menceritakan candi ini tidak menyinggung sama sekali soal relief tersebut. Berbeda dengan relief di Candi Jago dan Candi Penataran yang masih jelas. Salah satu fragmen yang ada pada dinding candi, menggambarkan sendiri keberadaan candi Jawi tersebut beserta beberapa bangunan lain disekitar candi. Nampak Jelas pada fragmen tersebut pada sisi timur dari candi terdapat candi perwara sebanyak tiga buah, namun sayang sekali kondisi ketiga perwara tersebut saat ini bisa dibilang rata dengan tanah. demikan juga di fragmen tersebut terlihat jelas bahwa terdapat candi bentar yang merupakan pintu gerbang candi, terletak sebelah barat. Sisa-sisa bangunan tersebut memang masih ada, namun bentuknya lebih mirip onggokan batu bata, karena memang gerbang candi tersebut dibangun dari batu bata merah.

Disamping relief yang terletak dibagian dinding candi, terdapat pula relief lain yang terletak dibagian dalam candi. Terletak tepat dibagian tengah candi yang merupakan bagian tertinggi dari bagian dalam candi, terdapat sebuah relief Dewa Surya yang terpahat jelas.

Keunikan lain dari Candi Jawi adalah batu yang dipakai sebagai bahan bangunannya terdiri dari dua jenis. Bagian bawah terdiri dari batu hitam, sedangkan bagian atas batu putih. Bisa jadi ada dua periode pembangunannya.

Memang, Negarakertagama menyebutkan bahwa candrasengkala atau tahun Api Memanah Hari (1253 Saka) candi itu disambar petir. Saat itulah arca Maha Aksobaya raib. Raja Majapahit Prabu Hayam Wuruk yang mengunjungi candi itu sampai bersedih atas hilangnya arca tersebut. Memang ditemukan arca Maha Aksobaya yang kini disimpan di Taman Apsari, depan Kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jatim, yang kemudian dikenal dengan Patung Jokodolog. Akan tetapi, arca ini bukan berasal dari Candi Jawi.

Setahun setelah disambar petir itu, dilakukan pembangunan kembali. Pada masa inilah diperkirakan menggunakan batu putih. Namun, dari mana batu putih tersebut? Karena, kawasan yang masuk kaki Gunung Welirang kebanyakan batu hitam. Batu putih banyak dijumpai di daerah pesisir utara Jawa atau Madura.

Candi Jawi dipugar untuk kedua kalinya tahun 1938-1941 karena kondisinya sudah runtuh. Akan tetapi, renovasinya tidak sampai tuntas karena sebagian batunya hilang. Kemudian diperbaiki kembali tahun 1975-1980, dan diresmikan tahun 1982.

Bentuk bangunan Candi Jawi memang utuh, tetapi isinya berkurang. Negarakertagama menyebutkan, di dalam bilik candi terdapat arca Siwa. Di atasnya terdapat Maha Aksobaya. Ada sejumlah arca bersifat Siwa, seperti Nandiswara, Durga, Ganesa, Nandi, dan Brahma.

Arca Durga kini disimpan di Museum Empu TantularSurabaya. Lainnya disimpan di Museum Trowulan untuk pengamanan. Sedangkan yang lainnya lagi, seperti arca Brahmana, tidak ditemukan. Mungkin saja sudah berkeping-keping.

Di gudang belakang candi memang terdapat potongan-potongan patung. Selain itu, terdapat pagar bata merah seperti yang banyak dijumpai di bangunan pada masa Kerajaan Majapahit, seperti Candi Tikus di Trowulan dan Candi Bajangratu di Mojokerto.

Pemindahan arca pada satu sisi memang tepat untuk menghindarkan dari pencurian. Akan tetapi, dapat mengurangi substansi sejarahnya. Menjadi tidak lengkap. Arca-arca yang dipindah dari habitatnya menjadi kehilangan nilai historisnya. Lihat saja arca yang disimpan di Hotel Tugu Park, Malang. Arca-arca itu memang terawat baik, tetapi lantas tercabut dari nilai historis dan ritualitasnya. Suatu hal yang memang dilematis.

(sumber: http://id.wikipedia.org/)

 
Leave a comment

Posted by on April 7, 2012 in Sejarah

 

Tags: ,

My first Instagram pictures.

Just a few days ago Instagram had release their app for Android devices, the first night it released, I downloaded it quickly without ny hesitation, despite the Apple fanboys/girls sarcasm, hohoho.

Here we are now, my first six pictures using Instagram for Android from my S5570 device.

Gotta admit it the effect are still lack, compared to Vignette has, but it’s okay, at least I got myself mainstreamed *oh yeah* LOL.

It would be better for them to upgrade the effect. IMO.

So, enjoy yourself.

 
Leave a comment

Posted by on April 7, 2012 in Dari Saya

 

Tags: , , , , ,

Hari ke-3 #NoComplaintWeek

Hari kemarin (Rabu)  gw ngerasa takjub aja, satu dan lain hal dikarenakan ada accident yang gw alamin pagi harinya.

Awalnya sih karena ada satu hashtag keren di TL gw, #NoComplaintWeek yang digagas om @newsplatter, gw mikir kenapa enggak? Toh selama ini gw terkenal grumpiest people ever, disamping temperament yang tinggi walau penampilannya kalem dan bersahaja #plakkk *digampar massal*

Rabu, 14 Maret 2012 adalah hari ketiga gw ikutan #NoComplaintWeek. Hari ketiga dimulai pagi banget, udara masih seger, sarapan dan berangkat ke kantor walau diiringi hujan dipagi hari. Gw suka sih hujan dipagi hari, asal gak bikin baju basah aja hehe.

Gw berangkat ke kantor menggunakan transportasi umum dong. Naik angkot ke daerah Slipi trus lanjut bus ke kantor gw d bilangan Sudirman. Gak ada kejadian yang penting banget selama perjalan ke Slipi karena lebih diisi baca TL dan ngantuk.

Kejadian utamanya di Slipi, lebih karena gw gak hati-hati dan lihat kanan-kiri dulu sebelum lari ke arah bus yang siap-siap jalan. Gw turun angkot dan langsung lari ke arah bus. Tiba-tiba ada hantaman kenceng dari arah kanan dan gue kelempar ke kiri telungkup diiringi backsound teriakan orang-orang.

Yup, gw ketabrak motor dengan posisi telungkup di jalan yang basah habis hujan. Dalam pikiran gw pertama kali adalah “anjritt, baju gw kotor nih, kotor nih”, gw berdiri ngecek hape di saku jaket dan ngibasin celana gw yang ternyata gak kotor.

Baru setelah itu gw liatin siapa yang nabrak gw barusan. Gw gak sempet ngukur tapi perkiraan ada gw ke lempar antara 1-2 meter, cukup untuk liat ekspresi muka bapaknya yang campuran antara shock, marah, dan melotot. Gw amat sangat yakin di lain waktu dan kesempatan gw bakalan maki-maki tuh orang habis-habisan.

Tapi gak tahu kenapa yang ada malah gw ngeliat bapak itu selama 5 detik, gw maksain senyum walau gak bisa dengan harapan dia tahu “Pak, see, I am fine”, terus gw lari minggir, dan langsung naik bus yang langsung berangkat.

Nyampe kantor, minta ijin sama boss ntar pulang cepet karena habis ketabrak motor, walau akhirnya gw pulang jam 5 juga. Dengan oleh-oleh lecet kecil banget di telapak tangan dan mata kaki (kok bisa)?

Gw gak tahu apa ini efek dari nerima apapun dan berusaha bersyukur dan juga nahan emosi, karena hampir semua orang bilang gw goblok gak nuntut uang ganti rugi walau gw yang salah juga. Tapi deep down inside gw mikir yang paling penting gw sehat gak kenapa-kenapa dan bapakknya juga gak kenapa-kenapa. Itu yang penting.

Tapi yang paling lucu dan aneh adalah, sampe sekarang masih senyam-senyum sendiri inget ekspresi bapak itu dan juga ketololan gw sendiri.

Mungkin gw udah sampe taraf self concious yang tinggi kali ya, atau goblok? :D

Yang pasti sejak nahan diri buat gak ngeluh, gue merasa lebih happy aja.

Cerita lain tentang #NoComplaintWeek bisa di baca di sini.

 
Leave a comment

Posted by on March 14, 2012 in Dari Saya

 

Tags: ,

Wortel, telur, dan kopi

Kopi.

Seorang anak mengeluh pada ayahnya mengenai kehidupannya dan menanyakan mengapa hidup ini terasa begitu berat baginya. Ia tidak tahu bagaimana menghadapinya dan hampir menyerah. Ia sudah lelah untuk berjuang. Sepertinya setiap kali satu masalah selesai, timbul masalah baru.

Ayahnya, seorang koki, membawanya ke dapur. Ia mengisi 3 panci dengan air dan menaruhnya di atas api. Setelah air di panci-panci tersebut mendidih. Ia menaruh wortel di dalam panci pertama, telur di panik kedua dan ia menaruh kopi bubuk di panci terakhir. Ia membiarkannya mendidih tanpa berkata-kata. Si anak membungkam dan menunggu dengan tidak sabar, memikirkan apa yang sedang dikerjakan sang ayah. Setelah 20 menit, sang ayah mematikan api. Ia menyisihkan wortel dan menaruhnya di mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk yang lain, dan menuangkan kopi di mangkuk lainnya.

Lalu ia bertanya kepada anaknya, “Apa yang kau lihat, nak?” “Wortel, telur, dan kopi” jawab si anak. Ayahnya mengajaknya mendekat dan memintanya merasakan wortel itu. Ia melakukannya dan merasakan bahwa wortel
itu terasa lunak. Ayahnya lalu memintanya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, ia mendapati sebuah telur rebus yang  mengeras. Terakhir, ayahnya memintanya untuk mencicipi kopi. Ia tersenyum ketika mencicipi kopi  dengan aromanya yang khas. Setelah itu, si anak bertanya, “Apa arti semua ini, Ayah?” Ayahnya menerangkan bahwa ketiganya telah menghadapi kesulitan yang sama, perebusan, tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda.

Wortel sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus, wortel  menjadi lembut dan lunak.

Wortel.

Telur sebelumnya mudah pecah. Cangkang tipisnya melindungi isinya yang berupa cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras.

Bubuk kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan air, bubuk kopi merubah air tersebut. “Kamu termasuk yang mana?,” Tanya ayahnya. “Ketika kesulitan mendatangimu, bagaimana kau menghadapinya? Apakah kamu wortel, telur atau kopi?”

Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu adalah wortel yang kelihatannya keras, tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kamu menyerah, menjadi lunak dan kehilangan kekuatanmu.

Apakah kamu adalah telur, yang awalnya memiliki hati lembut? Dengan jiwa yang dinamis, namun setelah adanya kematian, patah hati, perceraian atau pemecatan menjadi keras dan kaku. Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah kamu menjadi pahit dan keras dengan jiwa dan hati yang kaku?

Telur ayam.

Ataukah kamu adalah bubuk kopi? Bubuk kopi merubah air panas, sesuatu yang menimbulkan kesakitan, untuk mencapai rasanya yang maksimal pada suhu 100 derajat Celcius. Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi terasa semakin nikmat. Jika kamu seperti bubuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk, kamu akan menjadi semakin baik dan membuat keadaan di sekitarmu juga membaik.

 

(Anonymous)

 
1 Comment

Posted by on March 11, 2012 in Inspirasi

 

Tags: , , , , , ,

Menyapa Lagi

Ternyata sudah setahun tidak menyapa pagi lagi. Yah kenapa harus pagi? Karena pagi merupakan awal hari, semangat dini yang biasanya mengisi relung hati insan duniawi.

*senyum-senyum sendiri*

Not o mention that I’m to busy with my work at the office, but, you know, sometimes – many times – have spent in the darkest hour of my life, cause I’m a piscean, who’d like to draw my inner self into dark-void inside my brain but…

*sigh*

Sudahlah, yang penting sekarang saatnya mengangkat beban berat di kepala dan memandang jauh dan luas ke depan.

Beberapa hal penting yang ingin saya bagi sebenarnya simple.

Saya mulai membaca lagi.

*yess*

Meskipun dimulai dengan Negeri 5 Menara nya A. Fuadi yang menurut saya membosankan, (yea, sue me :P), toh itu tak membat semangat saya untuk membaca pudar. Masih banya buku yang belum dibaca, termasuk Sun Tzu yang merupakan keinginan dari dulu utuk bisa membaca Art of War-nya.

Now, I’m proceed to read the ‘5 cm’ by Donny Dhirgantoro.

Well, okay. DO wish me luck on this new good behaviour of mine. :P

Salam.

 
Leave a comment

Posted by on March 11, 2012 in Dari Saya

 

Tags: , , , , , ,

Filosofi Bambu

Beberapa hari lalu saya mendapatkan sebuah majalah elekronik, sebut saja e-magazine, dapat dari sini. Dan kebetulan dapatnya juga tidak sengaja. Namun satu hal yang pasti dan ingin saya explore adalah tentang bambu. Yup, bambu, yang sepertinya menjadi topik utama dari terbitan pertama majalah tersebut. Jujur baru baca bentar sudah ketiduran tadi malam. Maklum, capek, he3.

Oke, balik tentang bambu sendiri. Apa sih yang menarik dari bambu, selain baunya menurut saya (yeah, saya suka sekali bau bambu segar yang baru dipotong). Kenapa tidak pohon2 yang lain? Justru itu, coba pikir sekali lagi, bambu sudah ada dan menjadi bagian dari kehidupan rakyat Indonesia semenjak dulu. Bahkan sebelum saya lahir (ya iyalah ha3). Namun ini lah yang menarik menurut saya. Ada apa dengan bambu dan kenapa harus bambu.

Nah bambu itu seperti di foto atas, (thanks Mbah Google :) ). Anyway,

Bambu adalah tanaman jenis rumput-rumputan dengan rongga dan ruas di batangnya. Bambu memiliki banyak tipe. Nama lain dari bambu adalah buluh, aur, dan eru. Di dunia ini bambu merupakan salah satu tanaman dengan pertumbuhan paling cepat. Karena memiliki sistem rhizoma-dependen unik, dalam sehari bambu dapat tumbuh sepanjang 60cm (24 Inchi) bahkan lebih, tergantung pada kondisi tanah dan klimatologi tempat ia ditanam. Pasted from <http://id.wikipedia.org/wiki/Bambu>

Bambu sendiri memiliki banyak manfaat dan kegunaan. Coba diingat-ingat dari jaman kecil dampai sekarang, apa saja sih kegunaan bambu? Lupa. Nih kegunaan bambu:
  • Masakan. Siapa yang kenal sayur rebung? Dan beberapa kali saya ingat banyak acara memasak di TV yang dipandu chef2 terkenal memasak rebung. Nyam.
  • Peralatan rumah tangga. Ada yang tahu peralatan rumah tangga apa saja. Yup, bakul nasi, tampah, bubu/perangkap ikan, tempat kue/besek, topi bambu/caping adalah contoh dari beberapa peralatan yang terbuat dari bambu.
  • Konstruksi. Jangan pernah melupakan bambu sebagai bahan bangunan. Terutama di jawa. Banyak rumah yang menggunakan bambu sebagai salah satu bagian konstruksi. Mulai dari pagar, dinding, tiang. Bahkan jembatan pun dibuat dari bambu.
  • Instrument musik. Siapa yang tidak kenal seruling dan angklung?
Oke, itu untuk sekedar pengetahuan dasar tentang bambu. Balik lagi ke topik semula, yakni filosofi bambu.
Bambu merupakan salah satu unsur alam yang tidak bisa dilepaskan dari elemen kehidupan masyarakat, jawa khususnya. Hampir semua unsur kehidupan terkait dengan tanaman ini. Sehingga banyak sekali kearifan lokal yang didasari oleh sifat-sifat bambu itu sendiri.
Bambu berakar serabut, namun bambu mampu tumbuh tinggi. Rahasianya adalah karena bambu mampu menguatkan diri sendiri sehingga bisa tumbuh tinggi dan kuat, serta rindang. Hal yang dapat kita pelajari adalah untuk bisa menjadi kuat, kita harus teguh dan kokoh. Memperkuat diri sendiri secara fisik dan spiritual.
Bambu pun mampu menahan terpaan angin yang kencang walau dia tumbuh tinggi karena struktur bambu yang elastis sehingga dia tetap kokoh. Walau hidup penuh dengan cobaan dan godaan, arus kehidupan, kita mampu mengikuti arus perkembangan jaman, namun kokoh pada prinsip. Tidak kaku, adaptable, fleksibel.
Kebanyakan rumpun bambu ada di sepanjang pinggiran sungai dan berguna untuk menahan erosi tanah. Lagipula bambu mampu hidup ditempat yang sulit bagi tanaman lain untuk tumbuh dan makin tua dia makin kuat. Semakin lama semakin kuat, baik batang maupun akarnya, yang membentuk kesatuan rumpun. Hikmahnya adalah agar kita berguna untuk diri kita sendiri dan orang lain, memberi makna dan manfaat dalam hidup
Saat masih muda, bambu mampu hidup tegak sendiri, saat makin tua dan tinggi dia merunduk. Menjadi manusia haruslah bisa mandiri dan tidak menggantungkan hidup terhadap orang lain. Dan saat makin penuh ilmu dan pengalaman menjadikan kita manusia yang selalu rendah hati dan penuh sopan santun.
Hal yang terpenting adalah, hampir semua bagian dari bambu mampu dimanfaatkan oleh masyarakat. Mulai dari tunas bambu muda, sampai ujung batangnya berguna. Sifat yang diharapkan bagi semua golongan muda saat ini. Mampu berguna di setiap keberadaannya.

Bambu digunakan hampir dalam setiap kegiatan kemasyarakatan dan keagamaan masyarakat Bali. Pun, menjadi sumber kehidupan dalam kehidupan masyarakat Jawa. Dan tak bisa dipungkiri pula kehadiran bambu yang makin dibutuhkan ketika Pesta Demokrasi tiba. Semua bendera parpol membutuhkan bambu untuk membuatnya berkibar.

Mungkin suatu saat akan ada yang menulis tentang relevansi bambu dan kemerdekaan Indonesia. Atau pula, relevansi kemenangan partai politik dengn suplai bambu.

Yeah, who knows.

Jakarta, 10 Desember 2011

Thanks to Google, Wikipedia dan Kompas.

 

 
Leave a comment

Posted by on December 10, 2011 in Dari Saya

 

Tags: ,

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.